Senin-Jumat: 08:00 - 16:00 WITA(0411) 112 · info@makassarkota.go.id

Publikasi Terkini

Berita & Informasi

Umum

Segera Tayang Nasional, Munafri Ajak Warga Nonton Karya Terbaru Sineas Makassar “Jangan Lupa Bahagia”

MAKASSAR,—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membuka ruang promosi Pemerintah Kota Makassar untuk mendukung film layar lebar karya sineas Makassar, Jangan Lupa Bahagia, yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 10 September 2026. Dukungan tersebut disampaikan Munafri saat menerima audiensi cast dan crew film ‘Jangan Lupa Bahagia’ di Balaikota Makassar, Kamis (3/9/2026). Audiensi dihadiri langsung oleh duo komedian Tumming dan Abu bersama pemeran utama film, Alghifahri Jasin dan rombongan kru film. Dalam pertemuan tersebut, Abu mewakili tim film menyampaikan rencana penayangan ‘Jangan Lupa Bahagia ‘ sekaligus meminta dukungan Pemerintah Kota Makassar untuk membantu memperluas promosi film. Munafri menyambut baik permintaan tersebut. Ia mengatakan Pemkot Makassar sangat terbuka dan siap untuk memberikan fasilitas yang dapat menjadi wadah untuk promosi. Munafri menawarkan ruang promosi lewat videotron hingga applikasi Lontara+ masyarakat Makassar. “Silakan manfaatkan ada videotron. Bisa promosi, ada aplikasi Lontara juga,” katanya. Bagi Munafri, karya kreatif yang lahir dari Makassar perlu mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas. Apalagi Jangan Lupa Bahagia tidak hanya membawa nama sineas lokal, tetapi juga mengangkat cerita keluarga yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sehingga, kehadiran film lokal yang berhasil masuk ke jaringan bioskop nasional merupakan momentum yang patut diapresiasi. Ia pun menyatakan dukungannya bukan hanya melalui fasilitas promosi pemerintah, tetapi juga dengan hadir langsung menyaksikan film tersebut saat Gala Premier. “Saya juga pasti akan datang nonton. Tanggal 8 yah,” ujarnya. Gala premiere Jangan Lupa Bahagia dijadwalkan berlangsung pada 8 September 2026 di Mall Panakkukang Makassar, sebelum film tersebut resmi tayang serentak di bioskop Indonesia pada 10 September 2026. Munafri juga secara khusus mengajak masyarakat untuk ikut memberikan dukungan dengan menyaksikan film karya anak bangsa tersebut di bioskop. “Datang, ajak seluruh teman-temannya, seluruh keluarganya untuk menyaksikan salah satu film terbaik dari Kota Makassar,” ujarnya.(*)

Baca Selengkapnya
Umum

Aliyah Mustika Ilham Kunjungi KBRI Tokyo, Bahas Peluang Kerja Sama Makassar–Jepang

TOKYO, JEPANG – Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang, Senin, (1/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Aliyah Mustika Ilham bersama jajaran Pemerintah Kota Makassar diterima oleh Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, beserta jajaran pejabat KBRI Tokyo. Dalam kunjungan tersebut, Aliyah Mustika Ilham didampingi sejumlah pejabat Pemerintah Kota Makassar, yakni Staf Ahli Wali Kota Makassar, Herfidha Attas, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, serta Kepala Bagian Kerja Sama Setda Kota Makassar, Andi Zulfitrah. Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis, khususnya peluang pengembangan kerja sama internasional dan hubungan antarkota atau City-to-City Collaboration Project antara Kota Makassar dengan sejumlah kota di Jepang. Kunjungan Pemerintah Kota Makassar ke Jepang juga berkaitan dengan undangan dari Wali Kota Yokohama untuk menghadiri Asia-Pacific Circular Cities Forum (APCC) 2026 yang akan berlangsung di Yokohama pada 2–4 September 2026. Sebagai salah satu inisiator Asian Circular Cities Declaration (ACCD) yang mewakili kota-kota di Indonesia, Kota Makassar dijadwalkan menjadi pembicara pada Plenary Session 1, 3 September 2026. Dalam forum tersebut, Pemerintah Kota Makassar akan memaparkan materi bertajuk “Makassar City Waste Management Policy”, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kebijakan dan komitmen Kota Makassar dalam pengelolaan persampahan serta pembangunan kota berkelanjutan. Selain menghadiri forum tersebut, Pemerintah Kota Makassar saat ini juga tengah menjalin komunikasi terkait kerja sama City-to-City Collaboration Project dengan tiga kota di Jepang, yakni Yokohama, Kawasaki, dan Maniwa. Kerja sama tersebut akan difokuskan pada sejumlah bidang strategis. Kota Yokohama menjadi mitra potensial dalam bidang transportasi dan energi, Kota Kawasaki pada bidang manajemen air dan pengendalian banjir, sementara Kota Maniwa membuka peluang kolaborasi di bidang ekonomi sirkular dan manajemen persampahan. Aliyah Mustika Ilham juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Makassar terus membuka peluang kerja sama di berbagai sektor lainnya, termasuk ketenagakerjaan, pengembangan UMKM, dan pendidikan. Menurut Aliyah Mustika Ilham, kunjungan ke KBRI Tokyo menjadi bagian penting dalam memperkuat komunikasi dan koordinasi, sekaligus membuka jejaring yang lebih luas bagi Pemerintah Kota Makassar dalam membangun kerja sama internasional. “Berbagai peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi pembangunan Kota Makassar tentu harus terus dijajaki. Mulai dari lingkungan, transportasi, pengendalian banjir, pengembangan ekonomi hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Aliyah Mustika Ilham. Melalui kunjungan tersebut, Pemerintah Kota Makassar berharap hubungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak di Jepang dapat terus diperkuat serta menghasilkan kerja sama konkret yang mendukung pembangunan Kota Makassar yang berkelanjutan.

Baca Selengkapnya
Umum

Munafri Perluas Program Iuran Sampah Gratis hingga 1.300 VA, Warga Wajib Pilah Sampah

MAKASSAR,—Setelah berjalan sekitar satu tahun, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin kini memperluas cakupan program pembebasan iuran sampah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika sebelumnya program menyasar rumah tangga dengan daya listrik 450 hingga 900 VA, cakupannya akan diperluas hingga pelanggan 1.300 VA. Penegasan tersebut disampaikan Munafri saat menghadiri Pesta Rakyat Kecamatan Ujung Tanah dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu (2/9/2026) malam. Penegasan yang sama juga telah disampaikan Munafri di sejumlah kecamatan lain ketika menghadiri pesta rakyat. Munafri mengatakan, perluasan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Makassar untuk meringankan beban masyarakat sekaligus membangun pola pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah. “Ini kita mulai dari melihat KWH atau beban listrik yang ada di rumah masing-masing. Tahun lalu kita sudah mulai dengan kekuatan atau daya listrik 450 sampai 900 watt, dan tahun ini kita akan tingkatkan ke kemampuan listriknya 900 sampai 1.300,” katanya. Namun demikian, Munafri melanjutkan, skema pembebasan iuran sampah tidak hanya dirancang sebagai bentuk keringanan bagi masyarakat. Program tersebut sekaligus menjadi instrumen untuk mendorong keterlibatan warga dalam mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Tamangapa. Munafri yang akrab disapa Appi menegaskan perluasan pembebasan iuran sampah tersebut disertai syarat yang harus dipenuhi masyarakat, yakni wajib memilah sampah rumah tangga masing-masing sebelum diangkut. “Nah, tetapi syaratnya sampah dipilah. Kalau tidak dipilah, Pak Camat akan tetap menagih pembayarannya,” tegasnya. Appi juga meminta pemerintah kecamatan memastikan rumah tangga yang memperoleh pembebasan iuran diberikan penanda khusus berupa stiker. Hal tersebut diperlukan agar penerima program dapat teridentifikasi sekaligus menjadi bagian dari pengawasan pelaksanaan kebijakan. “Pak Camat tolong rumah-rumah yang akan digratiskan, ditempelkan stiker. Buat laporannya bahwa ini sudah gratis,” ujarnya. Lebih jauh, Appi menjelaskan, kebijakan tersebut tidak dapat dipisahkan dari upaya Pemkot Makassar mengubah pola pengelolaan sampah. Pemerintah ingin sampah tidak seluruhnya berakhir di TPA yang kini telah bertransformasi jadi sanitary lanfill, tetapi terlebih dahulu diselesaikan dari sumbernya. “Ini untuk memastikan bahwa kita tidak mau membebani seluruh sampah kita langsung ke TPA. Kita mau ini bisa kita selesaikan sendiri karena ini adalah sampah yang kita produksi,” katanya. Ia juga mendorong agar pemilahan tidak berhenti pada pemisahan sampah, tetapi dilanjutkan dengan pemanfaatan. Ia menjelaskan sampah organik diarahkan untuk dikelola, sementara sampah anorganik dapat memiliki nilai ekonomi bagi rumah tangga. “Sampah organik bisa terkelola dengan baik, sampah anorganik bisa menjadikan tambahan penghasilan rumah tangga,” tuturnya.(*)

Baca Selengkapnya
Umum

Cegah Sapi Konsumsi Sampah Berbahaya, Pemkot Siapkan Penangkaran di TPA Tamangapa

MAKASSAR — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus mempercepat pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, sebagai bagian dari upaya memenuhi seluruh ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan keluar dari sanksi administrasi terkait pengelolaan sampah. Sejumlah pekerjaan pembenahan kini terus dilakukan di kawasan TPA Tamangapa. Mulai dari penataan dan penimbunan area sanitary landfill, pembenahan akses jalan, pemasangan tiang pancang, hingga penanganan kolam air lindi. Oleh sebab itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, meninjau langsung kondisi dan progres pembenahan TPA Tamangapa, Rabu (2/9/2026). "Hari ini kami meninjau di TPA ini, penting sekali untuk memastikan kita keluar dari sanksi administrasi. Setelah Gakkum datang berkunjung, ada beberapa hal yang harus kita perbaiki," ujarnya. Dalam peninjauan tersebut, Appi mengaku menemukan kondisi di lapangan yang berbeda dari ekspektasinya. Ia menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan yang seharusnya telah dilakukan berdasarkan arahan dan hasil evaluasi sebelumnya. "Hanya saja, tidak seperti yang saya bayangkan. Artinya sudah dikasih tahu ini yang harus dilakukan," tambah Appi. Ia menegaskan, proses pembenahan TPA menjadi bagian dari proses transisi pengelolaan sampah dari sistem open dumping atau pembuangan sampah secara terbuka menuju sistem pengelolaan yang lebih terkendali. Menurut Appi, pembenahan TPA Tamangapa saat ini menjadi salah satu fokus utama pemerintah kota saat ini. Selain memastikan seluruh kewajiban yang diminta KLH dipenuhi, Pemkot Makassar juga ingin memastikan sistem open dumping benar-benar dihentikan. "Pembenahan TPA ini menjadi fokus utama guna menghentikan sistem pembuangan terbuka (open dumping) sepenuhnya dan mendorong transisi menuju sistem yang berkelanjutan seperti controlled landfill atau sanitary landfill," jelasnya. Appi mengatakan, peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh rekomendasi dan kewajiban hasil pengawasan penegakan hukum lingkungan dapat segera ditindaklanjuti. Ia mengakui, wajah TPA Tamangapa saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan kondisi sebelumnya. Penataan kawasan mulai terlihat, termasuk berkurangnya bau menyengat yang selama ini menjadi salah satu keluhan masyarakat. "Sekarang wajah TPA berubah total, tampak terlihat beda jauh dengan tahun sebelumnya," katanya. Namun, Appi menegaskan bahwa perubahan fisik tersebut tidak boleh membuat Dinas terkait berpuas diri. Masih terdapat sejumlah infrastruktur pendukung yang harus dibenahi agar sistem pengelolaan TPA dapat berjalan secara menyeluruh. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama Appi adalah sistem drainase dan pengelolaan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang terbentuk dari proses perkolasi air melalui timbunan sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, air lindi berpotensi mencemari lingkungan, termasuk badan air dan wilayah permukiman di sekitar TPA. Karena itu, Appi meminta agar seluruh alur drainase yang membawa air lindi ditata dan dipastikan terhubung dengan sistem pengolahan air limbah atau IPAL. "Yang utama adalah alur dari drainase lindi yang terhubung dengan IPAL untuk memastikan air lindi itu tidak mencemari atau masuk ke dalam wilayah-wilayah permukiman masyarakat. Dan ini penting," imbuh Appi. Menurut Appi, Pemkot Makassar telah berkomitmen membangun sistem drainase yang mengelilingi dan mendukung pengelolaan kawasan TPA. "Kita sudah buat komitmen bahwa seluruh luaran TPA, kira-kira ada sekitar 700–800 meter, ini akan kita bangun drainase," ungkapnya. Tidak hanya drainase, pemerintah juga akan menambah kapasitas kolam lindi. Mantan CEO PSM itu menjelaskan, kapasitas kolam lindi yang tersedia saat ini tidak lagi sebanding dengan luas kawasan TPA yang telah berkembang. Ia menyebut kolam lindi yang ada dibangun sekitar tahun 1993, ketika luas TPA masih sekitar empat hektare. Sementara saat ini luas kawasan TPA telah berkembang menjadi lebih dari 12 hektare. "Kolam lindi yang ada saat ini dibangun tahun 1993 kalau tidak salah. Itu masih pada saat TPA berukuran empat hektare," tuturnya. "Nah, sekarang TPA sudah lebih dari 12 hektare. Artinya tidak mungkin kolam lindi menampung 12 hektare dengan kapasitas empat hektare," tambah Munafri. Karena itu, Appi menilai dibutuhkan penambahan kolam lindi yang saling terhubung untuk mengantisipasi peningkatan volume air lindi, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. "Harus ada minimal tiga kolam lindi yang saling berhubungan," tegasnya. Rencana tersebut, lanjut Appi, telah dimasukkan dalam perencanaan dan akan didorong untuk masuk dalam penganggaran tahun berikutnya. "Ini yang saya mau, sudah ada di dalam perencanaannya untuk perencanaan penganggaran tahun depan, itu sudah harus jadi," katanya. Ia menekankan pembangunan infrastruktur pendukung tersebut sangat penting karena persoalan air lindi tidak hanya menyangkut kawasan TPA. "Kenapa? Karena supporting ini kita butuh. Kondisi kalau hujan, meluap lagi nanti pasti ke masyarakat lagi air lindinya. Nah, ini yang harus cepat diantisipasi dan menjadi komitmen kita," jelas Appi. Selain air lindi, persoalan lain yang menjadi perhatian Pemkot Makassar adalah keberadaan sapi yang selama ini berkeliaran di kawasan TPA. Padahal disiapkan area khusus dan melibatkan sapi-sapi tersebut untuk membantu mengonsumsi sampah organik yang telah dipilah dari pasar tradisional. Appi menilai keberadaan sapi yang bebas mencari makanan di area timbunan sampah harus segera dihentikan karena berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan. Sapi yang memakan sampah secara langsung berisiko mengonsumsi material berbahaya, termasuk plastik dan berbagai jenis limbah lainnya. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat apabila produk ternak masuk ke dalam rantai konsumsi. Karena itu, Pemkot Makassar telah menyiapkan area penangkaran atau ranch untuk menampung sapi-sapi tersebut. "Kita sudah buat penangkaran. Sapi-sapi kita berharap sampah-sampah organik dari pasar itu datang ke sana untuk dimasukkan ke dalam ranch sapi yang ada," beber Ketua IKA FH Unhas itu. Dengan konsep tersebut, sapi tidak lagi dibiarkan berkeliaran di area timbunan sampah. "Seluruh sapi masuk ke dalam kita siapakan, makannya di sampah-sampah yang datang dari sampah pasar," ujarnya. "Pola ini harus diterapkan secara konsisten. Sapi tidak boleh lagi mencari makanan di area TPA karena berisiko memakan sampah yang tidak layak konsumsi," lanjut Munafri, menutup keterangan. (*)

Baca Selengkapnya
Umum

Munafri Siapkan Transformasi Area RPH Tamangapa Jadi Kawasan Peternakan-Pertanian Modern

MAKASSAR,—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin meninjau area terbuka Rumah Potong Hewan (RPH) Tamangapa, Kecamatan Manggala, Rabu (2/9/2026). Kunjungan Munafri untuk memastikan pembenahan sekaligus rencana optimalisasi dan pemanfaatan aset daerah tersebut. Munafri didampingi Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar, Aulia Arsyad, melihat langsung kondisi kawasan sekitar RPH yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyayangkan aset dengan luasan dan potensi besar tersebut tidak boleh dibiarkan dalam kondisi idle tanpa memberikan manfaat bagi pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, Ia menilai area RPH perlu ditata dan dioptimalkan kembali agar dapat menjalankan fungsi ekonominya secara maksimal. “Kita akan memaksimalkan kembali ini RPH. Dalam kondisi hari ini, RPH akan sangat sulit untuk bergerak dengan keterbatasan anggaran yang mereka miliki,” jelasnya. Ia menjelaskan, optimalisasi RPH Tamangapa merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Makassar memastikan seluruh aset daerah memberikan manfaat nyata. Menurutnya, aset pemerintah yang tidak produktif justru menjadi beban apabila tidak dikelola dengan baik. “Sayang sekali aset-aset kita yang begitu besar, yang banyak gunanya itu idle seperti ini. Ini yang akan kita dorong terus, dalam rangka pemanfaatan aset daerah untuk bisa memberikan tambahan income buat daerah,” tegas Munafri. Selain meningkatkan pendapatan daerah, Munafri menilai pengaktifan kembali RPH juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. “Kalau ini aktif, angkatan kerja pasti akan terserap dengan baik,” pungkasnya. Lebih jauh, Munafri menjelaskan rencana kawasan RPH Tamangapa ke depan tidak hanya akan memaksimalkan fungsinya untuk pemotongan hewan. Tetapi juga akan dikembangkan menjadi kawasan percontohan produktif yang mengintegrasikan sektor pengelolaan lingkungan secara modern. Salah satunya, Ia melanjutkan, pembangunan greenhouse oleh Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2). Kawasan tersebut akan diarahkan menjadi zona pertanian terintegrasi dengan dukungan teknologi Internet of Things (IoT). “Dari DP2 akan membangun greenhouse di sini. Ada zona pertanian terintegrasi yang akan dibangun di sini,” kata Munafri. Selain itu, DP2 juga tengah menyiapkan pembangunan infrastruktur rumah maggot yang ditargetkan mampu mengolah sekitar 7,2 ton sampah setiap bulan. Pengelolaan tersebut akan menjadi percontohan hadirnya sistem pertanian terintegrasi pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular. “Maggot juga, perencanaannya akan membuat rumah maggot itu bisa menghabiskan kurang lebih 7,2 ton per bulan sampah. Artinya, di sini akan kita jadikan percontohan dari pemerintah yang mudah-mudahan ini bisa diikuti oleh masyarakat yang ada di Kota Makassar,” ujarnya. Munafri mengatakan konsep kawasan terintegrasi tersebut akan terus dikembangkan sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung model pengelolaan pertanian, peternakan, sampah dan aset daerah yang produktif.(*)

Baca Selengkapnya
Umum

Pasar Pa’baeng-baeng Terbakar, Munafri Pastikan Perbaikan dan Akses Modal Pedagang

MAKASSAR,—Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menargetkan los pedagang di Pasar Pa’baeng-baeng yang terdampak kebakaran dapat kembali digunakan dalam waktu 2–3 minggu. Target tersebut disampaikan Munafri saat meninjau langsung lokasi kebakaran Pasar Pa’baeng-baeng, Kecamatan Tamalate, Rabu (2/9/2026). Ia menyusuri area pasar yang terbakar sekaligus menyerap aspirasi para pedagang. Berbeda dengan penanganan kebakaran di kawasan permukiman, Munafri menekankan pemulihan Pasar Pa’baeng-baeng harus diarahkan pada percepatan perbaikan infrastruktur agar aktivitas perdagangan dapat kembali berjalan. “Sama halnya dengan yang di pasar, ini sangat berbeda karena ini tempat jualan bukan tempat tinggal. Yang harus kita perbaiki secepatnya adalah infrastruktur los-los yang ada seperti atap yang kena api dan sebagainya,” katanya. Wali kota yang akrab disapa Appi ini menilai percepatan rehabilitasi los menjadi penting agar pedagang tidak terlalu lama kehilangan tempat untuk menjalankan usahanya. “Ini perlu supaya cepat ada rehabilitasi untuk memastikan mereka kembali bisa jualan. Saya tadi sudah melihat kira-kira 2–3 minggu proses ini kita akan jalankan untuk memastikan los-los tempat jualan ini bisa dipergunakan kembali untuk para pedagang melakukan kegiatan usahanya,” ujarnya. Selain perbaikan fisik, Appi juga merespons aspirasi pedagang yang meminta dukungan permodalan untuk kembali memutar usaha setelah terdampak kebakaran. Ia meminta jajaran kelurahan dan kecamatan melakukan pendataan pedagang untuk kemudian difasilitasi mendapatkan akses pembiayaan melalui perbankan, termasuk skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Kita akan mempertemukan melalui Pak Lurah, Pak Camat, yang ada di sini untuk kami akses melalui proses permodalan tambahan. Melalui bank-bank yang sistem penyaluran KUR dan sebagainya,” jelasnya. Lebih jauh, Appi meminta peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat mitigasi kebakaran bagi masyarakat di seluruh pasar yang ada di Kota Makassar. Ia meminta PD Pasar memastikan ketersediaan dan keaktifan alat pemadam api ringan (APAR) serta hidran sebagai perangkat pertolongan awal ketika terjadi kebakaran. “Mulai dari sekarang dicek seluruh pasar-pasar yang ada untuk keaktifan alat-alat untuk bisa memberikan pertolongan pertama ketika terjadi hal-hal yang seperti ini,” tegasnya. Selain sarana pemadam, Munafri juga menyoroti instalasi listrik di pasar. Ia meminta seluruh jaringan listrik diperiksa dan dipastikan aman untuk mencegah potensi korsleting. “Listriknya jangan asal colok, jangan disambung-sambung sembarangan. Pastikan instalasi listriknya aman supaya tidak mudah mengakibatkan korsleting,” pungkasnya.(*)

Baca Selengkapnya