Karakteristik Iklim dan Curah Hujan
Kota Makassar memiliki kondisi hidrologi dan klimatologi yang unik karena lokasinya yang strategis di pesisir barat daya Pulau Sulawesi. Dikenal sebagai "Waterfront City", kota ini dialiri oleh beberapa sungai besar seperti Sungai Tallo dan Jeneberang yang bermuara ke Selat Makassar.
-
Karakteristik Iklim
Dari sisi iklim, Makassar masuk dalam kategori iklim Tipe C (agak basah) menurut klasifikasi Schmidt-Fergusson. Kota ini mengalami puncak musim hujan antara bulan Desember hingga Februari, yang terkadang menyebabkan genangan air terutama pada saat curah hujan tinggi bersamaan dengan naiknya air pasang. Sebaliknya, kota ini juga rentan terhadap kekeringan saat musim kemarau.
-
Curah Hujan & Pengaruh Perubahan Iklim
Data dari BMKG menunjukkan bahwa curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan Desember dan Januari. Fenomena perubahan iklim global juga turut memengaruhi kondisi iklim lokal, dengan adanya potensi peningkatan kejadian iklim ekstrem seperti El-Nino yang menyebabkan kekeringan dan La-Nina yang meningkatkan curah hujan dan risiko banjir di wilayah kota.
DAS Utama yang Mempengaruhi Wilayah
| Nama DAS | Sungai Utama | Luas DAS (km²) | Panjang Sungai (km) | Kab/Kota yang Dilintasi | Tutupan Hutan (%) | Isu Utama |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Jeneberang | Jeneberang | 860 | 80 | Gowa, Makassar | 16,8 | Erosi tinggi, sedimentasi Waduk Bili-Bili, sumber air baku utama |
| Tallo | Tallo, Pampang | 425,75 | 10 | Gowa, Maros, Makassar | 12,1 | Polusi industri & domestik, perubahan lahan masif, banjir perkotaan |
| Maros | Maros | 645 | 69,9 | Maros | 19,8 | Berbatasan dengan DAS Tallo, mempengaruhi hidrologi regional |
