Senin-Jumat: 08:00 - 16:00 WITA(0411) 112 · info@makassarkota.go.id

Jelajahi Kota Makassar

Destinasi Wisata & Kuliner

Temukan keindahan pantai, sejarah, budaya, dan kuliner khas Makassar.

Kuliner

Coto Makassar

Coto Makassar adalah hidangan kuliner tradisional paling ikonik dan legendaris dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang telah eksis sejak masa kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke-16. Kuliner ini merupakan sup daging dan jeroan sapi yang dimasak dalam kuah kental kaya rempah dengan aroma yang sangat harum. Keunikan utama yang membedakan kuah coto dengan sup lainnya adalah penggunaan air cucian beras (tajin) serta campuran kacang tanah goreng yang dihaluskan, sehingga menghasilkan tekstur kuah yang pekat, gurih, dan memiliki cita rasa yang sangat khas di lidah.

Kelezatan ramuan Coto Makassar terletak pada perpaduan harmonis dari sekitar 40 jenis rempah lokal atau yang secara tradisional disebut sebagai "Ampah Patang Pulo" seperti ketumbar, jintan, serai, lengkuas, jahe, daun salam, dan bawang putih. Rempah-rempah ini tidak hanya berfungsi sebagai pemberi rasa gurih yang mendalam, tetapi juga bermanfaat sebagai penawar kolesterol dari penggunaan jeroan sapi seperti handuk, babat, jantung, dan hati. Potongan daging dan jeroan yang telah direbus lama hingga empuk melengkapi setiap mangkuk coto yang disajikan hangat-hangat.

Secara tradisional, Coto Makassar tidak disantap bersama nasi putih, melainkan dipadukan dengan ketupat atau buras olahan nasi gurih yang dibungkus daun pisang khas Sulawesi. Untuk menyempurnakan rasanya, pengunjung biasanya menambahkan perasan jeruk nipis, kecap manis, dan sambal tauco yang khas untuk memberikan sensasi rasa asam, manis, dan pedas yang segar. Sebagai mahakarya kuliner yang sarat akan nilai sejarah, Coto Makassar kini telah menjadi identitas budaya yang wajib dicicipi oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Makassar.

Photo by Dinas Kebudayaan Kota Makassar on Instagram

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Fort Rotterdam

Benteng Rotterdam, atau yang lebih dikenal sebagai Fort Rotterdam, merupakan salah satu situs bersejarah paling ikonik yang terletak di jantung Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berdiri megah di dekat pesisir Pantai Losari, benteng ini awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-IX sebagai benteng pertahanan lokal yang bernama Benteng Panyua (Penyu). Setelah jatuh ke tangan VOC Belanda lewat Perjanjian Bongaya pada abad ke-17, kompleks ini dibangun kembali dengan arsitektur gaya kolonial Eropa dan dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan sekaligus markas militer Belanda di wilayah timur Nusantara.

Saat ini, Fort Rotterdam telah bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya utama yang menawarkan perpaduan arsitektur kuno yang sangat terawat. Di dalam area benteng yang dikelilingi dinding batu padas setinggi tujuh meter ini, pengunjung dapat menjelajahi belasan bangunan bergaya Gotik Belanda yang masih kokoh berdiri. Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Museum La Galigo, yang menyimpan ribuan koleksi artefak prasejarah, pakaian adat, senjata tradisional, hingga naskah kuno yang merekam jejak kejayaan peradaban suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar.

Selain nilai historisnya yang kental, Fort Rotterdam juga berfungsi sebagai ruang publik kreatif yang hidup dan ramah bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Area halaman dalamnya yang tertata rapi dengan hamparan rumput hijau yang luas sering kali menjadi tempat bersantai, berfoto, hingga penyelenggaraan berbagai festival seni dan budaya berskala internasional. Lokasinya yang sangat strategis dan mudah diakses menjadikan benteng berbentuk penyu ini sebagai tempat terbaik untuk menyelami masa lalu Makassar sekaligus menikmati atmosfer kota yang hangat.

Photo by Andi Hasbi Jaya on Unsplash

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo merupakan salah satu situs cagar budaya bernilai sejarah tinggi yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kawasan sakral ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para penguasa Kesultanan Tallo yang pernah berjaya sebagai kerajaan maritim mendampingi Kerajaan Gowa pada abad ke-16 hingga ke-17. Kompleks makam ini menjadi bukti bisu masa keemasan peradaban Islam di Sulawesi Selatan, di mana Raja Tallo ke-14, Sultan Abdullah Awwalul Islam, dinobatkan sebagai raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk agama Islam.

Secara arsitektural, kompleks makam ini menampilkan keunikan konstruksi abad pertengahan yang memadukan unsur lokal Bugis-Makassar dengan pengaruh kebudayaan Islam. Makam-makam di situs ini didominasi oleh tiga tipe bentuk utama, yaitu tipe kuburan batu (kamre), tipe kubah, dan tipe candi yang terbuat dari susunan batu bata kuno tanpa semen, melainkan menggunakan perekat alami tradisional. Karakteristik khusus tampak pada papan nisan bergaya khas yang dihiasi dengan pahatan kaligrafi Arab, relief tumbuh-tumbuhan, serta ragam hias geometris yang mencerminkan status sosial dan spiritualitas tinggi para raja yang dimakamkan di sana.

Saat ini, Kompleks Makam Raja Tallo telah ditata rapi sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang edukatif bagi masyarakat luas maupun wisatawan mancanegara. Lingkungan di sekitar makam dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan suasana teduh, tenang, dan khidmat bagi para peziarah yang datang. Sebagai bagian penting dari warisan budaya nasional, situs ini terus dirawat dan dilestarikan oleh pemerintah bersama masyarakat setempat guna menjaga kelestarian memori kolektif bangsa tentang ketangguhan dan kejayaan para leluhur Makassar.

Photo by Explore Makassar on Website

Selengkapnya
Wisata Budaya

Masjid 99 Kubah

Masjid 99 Kubah merupakan ikon religi modern yang terletak di kawasan reklamasi Center Point of Indonesia (CPI), tepi Pantai Losari, Makassar. Dirancang oleh arsitek ternama Ridwan Kamil, masjid megah ini diresmikan pada tahun 2022 dan langsung menarik perhatian karena tampilannya yang futuristik serta penuh makna filosofis. Nama masjid ini merujuk pada jumlah kubahnya yang berjumlah 99 buah, yang melambangkan Asmaul Husna atau nama-nama agung Allah SWT.

Dari segi arsitektur, bangunan masjid didominasi oleh perpaduan warna cerah yang ikonik seperti merah, oranye, dan kuning. Dengan luas bangunan utama sekitar 72 x 45 meter persegi, tempat ibadah ini mampu menampung hingga belasan ribu jemaah secara keseluruhan. Bagian interiornya didesain dengan ornamen dan kaligrafi yang tertata indah, memberikan suasana yang tenang, khusyuk, sekaligus megah bagi setiap pengunjung yang datang.

Selain menjadi pusat ibadah umat Islam di Sulawesi Selatan, masjid ini juga menjelma sebagai destinasi wisata religi andalan. Lokasinya yang berada di kawasan pesisir menyuguhkan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang sangat menawan di latar belakang kubah-kubahnya. Kehadiran Masjid 99 Kubah tidak hanya memperkuat identitas religi Kota Makassar, tetapi juga menyatu secara harmonis dengan estetika lanskap modern di sekitarnya.

Photo by Andi Hasbi Jaya on Unsplash

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Monumen Mandala

Monumen Mandala merupakan simbol perjuangan historis yang berdiri megah di atas lahan seluas kurang lebih 11 hektar di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar. Menara setinggi 75 meter ini didirikan sebagai bukti nyata perlawanan rakyat Sulawesi Selatan dalam menentang Nederlandsche Indesche Civil Administratie (NICA) yang membonceng tentara sekutu, sekaligus menjadi tonggak sejarah perjuangan rakyat Indonesia bagian timur dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembangunan proyek monumental ini diprakarsai oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, H.A. Zaenal Basri Palaguna. Prosesnya dimulai dengan peletakan batu pertama pada 11 Januari 1994 oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman, hingga akhirnya diresmikan secara langsung oleh Presiden Soeharto pada 19 Desember 1995.

Secara historis, monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dalam pembebasan Irian Barat sekaligus menjadi penghargaan atas kepemimpinan mantan Presiden Soeharto, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Mandala. Kehadiran komando ini sangat krusial dalam merebut kembali Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi setelah sempat dikuasai Belanda selama hampir 20 tahun pasca-kemerdekaan. Sebelum menjadi monumen, lahan ini memiliki catatan panjang; berawal dari sekolah guru (kweekschool) pada zaman kolonial Belanda tahun 1876, lalu berubah menjadi Markas Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada tahun 1946. Di era Orde Lama tepatnya 2 Januari 1962, Presiden Soekarno menjadikannya Markas Komando Mandala, yang kemudian beralih fungsi di era Orde Baru sebagai Markas Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dan Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Polda Sulselra), sebelum akhirnya bangunan lama tersebut dirobohkan pada tahun 1993.

Ditinjau dari segi arsitektur, Monumen Mandala sarat akan makna filosofis yang mendalam di setiap sudutnya. Struktur utamanya dirancang berbentuk segitiga sama sisi yang melambangkan Tri Komando Rakyat (Trikora), dengan ketinggian menara mencapai 62 meter menuju ruang pandang sebagai manifestasi tahun kembalinya Irian Barat, yaitu tahun 1962. Bagian bawah menara dihiasi relief lidah api yang melambangkan semangat Trikora, sementara bagian atasnya menyimbolkan semangat yang tak pernah padam, dikelilingi oleh 27 buah relief bambu runcing sebagai representasi alat perjuangan fisik pra-kemerdekaan. Keberadaan kolam di sekeliling menara menyimbolkan kejernihan berpikir yang mutlak dalam perjuangan, sedangkan puncak monumen dilengkapi harde penangkal petir sebagai simbol cita-cita luhur bangsa. Di bagian dalam bangunan setinggi empat lantai ini, pengunjung dapat menyaksikan deretan diorama yang menggambarkan visualisasi runut sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Photo by @exploremakassar on Instagram

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Museum kota makassar

Museum Kota Makassar merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya paling ikonik yang terletak di jantung Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Menempati gedung bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1916, yang dulunya berfungsi sebagai Gedung Balai Kota (Gouvernements Gebouw), museum ini menawarkan arsitektur megah bergaya Eropa klasik yang masih terawat dengan sangat baik. Kehadirannya tidak hanya menjadi landmark visual kota, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan waktu yang menghubungkan masyarakat modern dengan memori kolektif masa lalu di tanah Daeng.

Memasuki bagian dalam museum, pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai koleksi berharga yang merangkum perjalanan panjang sejarah Makassar dari masa ke masa. Koleksi yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari peta bumi kuno yang menggambarkan jalur pelayaran komersial, dokumentasi foto para Wali Kota Makassar dari periode awal hingga sekarang, mata uang kuno, hingga berbagai artefak peninggalan kerajaan lokal seperti Kerajaan Gowa dan Tallo. Setiap sudut ruangan ditata sedemikian rupa untuk menceritakan bagaimana kota pelabuhan yang dinamis ini berkembang menjadi salah satu pusat kosmopolitan terbesar di Indonesia Timur.

Bagi para wisatawan, pelajar, maupun peneliti, berkunjung ke Museum Kota Makassar memberikan pengalaman edukasi yang mendalam dan reflektif. Selain menikmati estetika bangunan yang sangat fotogenik untuk diabadikan, tempat ini menjadi sarana terbaik untuk memahami keragaman budaya lokal, ketangguhan para pelaut ulung Bugis-Makassar, serta sejarah perjuangan kemerdekaan di wilayah ini. Museum ini menjadi destinasi wajib yang menyempurnakan perjalanan Anda di Makassar, memberikan wawasan berharga bahwa kota ini dibangun di atas fondasi sejarah yang begitu besar dan kaya.

Photo by Dinas Kebudayaan Kota Makassar on Instagram

Selengkapnya
Kuliner

Pallubasa

Pallubasa adalah salah satu hidangan kuliner tradisional legendaris asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menawarkan cita rasa kuah kaya rempah yang sangat khas. Sekilas, kuliner ini memiliki kemiripan dengan coto Makassar karena sama-sama berbahan dasar daging atau jeroan sapi yang dimasak dalam kuah kental berwarna kecokelatan. Namun, perbedaan mendasar yang menjadi ciri khas pallubasa terletak pada penggunaan kelapa parut sangrai yang dicampurkan langsung ke dalam kuahnya, memberikan tekstur yang lebih pekat, gurih, dan aroma wangi yang sangat menggugah selera.

Keunikan lain yang membuat pallubasa begitu digemari adalah tradisi menambahkan telur dadung (telur ayam kampung mentah) ke dalam mangkuk sup yang masih panas mendidih. Telur mentah ini nantinya akan matang secara alami oleh suhu kuah, menghasilkan tekstur kuah yang semakin kental, legit, dan memperkaya kelezatan rasa gurihnya. Potongan daging sapi yang empuk berpadu sempurna dengan racikan bumbu rahasia seperti ketumbar, jintan, serai, dan lengkuas, menciptakan harmoni rasa yang melekat di lidah sejak suapan pertama.

Berbeda dengan coto Makassar yang umumnya disantap bersama ketupat atau buras, pallubasa secara tradisional disajikan bersama sepiring nasi putih hangat dan sambal tauco yang khas. Hidangan ini sangat populer dinikmati sebagai menu makan siang maupun makan malam oleh warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Makassar. Kombinasi antara kehangatan kuah rempah yang pekat, kelembutan daging, dan gurihnya kelapa sangrai menjadikan pallubasa sebagai mahakarya kuliner yang wajib dicicipi saat menjelajahi Kota Makassar.

Selengkapnya
Wisata Alam

Pantai Losari

Pantai Losari adalah ikon wisata utama Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, yang terkenal sebagai pusat aktivitas warga dan tempat menikmati pemandangan laut Selat Makassar. Berbeda dari pantai pada umumnya, kawasan tepi Pantai Losari dilapisi beton dan pelataran yang rapi alih-alih hamparan pasir, serta dilengkapi dengan beberapa anjungan tematik yang merepresentasikan keragaman suku di Sulawesi Selatan. Lokasinya yang berada di pusat kota membuatnya sangat strategis, mudah diakses kapan saja, dan terbuka secara gratis selama 24 jam bagi siapa saja yang ingin berkunjung. Daya tarik utama Pantai Losari tersaji pada waktu sore menjelang petang ketika langit berubah menjadi jingga keemasan saat matahari tenggelam. Dari area anjungan, pengunjung dapat melihat latar pemandangan ikonik berupa deretan kapal pinisi yang bersandar serta kemegahan Masjid Terapung Amirul Mukminin dan Masjid 99 Kubah. Suasana di kawasan ini semakin semarak pada malam hari berkat kehadiran para pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner khas Makassar, seperti pisang epe yang melegenda.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, akses menuju Pantai Losari sangat mudah karena posisinya berada di jantung Kota Makassar, tepatnya di sepanjang Jalan Penghibur, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang. Lokasi persisnya dapat diakses secara digital melalui tautan Google Maps berikut:

https://maps.app.goo.gl/VKef9WNFjiMhgmxW9

Jika Anda datang dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 hingga 45 menit berkendara via Jalan Tol Insinyur Sutami. Wisatawan memiliki banyak pilihan moda transportasi, mulai dari transportasi online (mobil dan motor), taksi konvensional, hingga angkutan kota khas Makassar yang disebut "pete-pete" (pilih jalur yang melewati Jalan Penghibur atau Benteng Rotterdam). Bagi yang membawa kendaraan pribadi, tersedia kantong-kantong parkir resmi di sekitar pelataran anjungan dengan tarif standar.

Kawasan wisata Pantai Losari tidak memberlakukan tiket masuk alias gratis untuk seluruh masyarakat umum. Wisatawan hanya perlu menyiapkan biaya untuk retribusi parkir kendaraan serta biaya pribadi jika ingin mencicipi kuliner atau menyewa wahana permainan air seperti bebek-bebekan dan perahu motor untuk berkeliling teluk. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pukul 16.30 hingga 18.30 WITA agar Anda bisa mengamankan spot foto terbaik di anjungan tepat sebelum momen matahari terbenam dimulai.

Photo by Khairul Akbar on Unsplash

Selengkapnya
Wisata Bahari

Pulau Kodingareng Keke

Pulau Kodingareng Keke adalah salah satu surga tersembunyi yang terletak di gugusan Kepulauan Spermonde, sekitar 14 kilometer dari pesisir Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan pulau-pulau wisata lainnya, Kodingareng Keke merupakan sebuah pulau tak berpenghuni yang menawarkan pesona alam yang masih sangat alami, asri, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Begitu mendekati pulau ini, wisatawan akan disambut oleh bentangan pasir putih halus yang memanjang serta gradasi warna air laut dari hijau toska muda hingga biru tua yang sangat memanjakan mata.

Daya tarik utama dari Pulau Kodingareng Keke terletak pada keindahan bawah lautnya yang luar biasa dan menjadi salah satu spot snorkeling serta diving terbaik di Sulawesi Selatan. Air lautnya yang jernih bak kristal memberikan visibilitas sempurna untuk menikmati hamparan terumbu karang yang sehat serta kawanan ikan warna-warni yang berenang bebas. Keunikan lain dari pulau ini adalah keberadaan struktur bawah air buatan berbentuk situs karang serta biota laut langka yang menjadikannya petualangan bawah air yang tak terlupakan bagi para pencinta petualangan bahari.

Karena merupakan pulau tak berpenghuni, berkunjung ke Pulau Kodingareng Keke memberikan sensasi petualangan ala private island yang menenangkan bagi siapa saja yang ingin melepas penat. Pulau ini menjadi destinasi yang sangat tepat untuk berjemur, berfoto di hamparan pasir timbulnya yang eksotis, atau sekadar menikmati angin laut yang sejuk di bawah keteduhan pohon-pohon kecil. Mengunjungi Kodingareng Keke akan memberikan Anda pengalaman wisata alam yang murni, mengingatkan kita akan kekayaan bahari Indonesia Timur yang begitu megah dan memikat hati.

Selengkapnya