Monumen Mandala

Monumen Mandala merupakan simbol perjuangan historis yang berdiri megah di atas lahan seluas kurang lebih 11 hektar di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar. Menara setinggi 75 meter ini didirikan sebagai bukti nyata perlawanan rakyat Sulawesi Selatan dalam menentang Nederlandsche Indesche Civil Administratie (NICA) yang membonceng tentara sekutu, sekaligus menjadi tonggak sejarah perjuangan rakyat Indonesia bagian timur dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembangunan proyek monumental ini diprakarsai oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, H.A. Zaenal Basri Palaguna. Prosesnya dimulai dengan peletakan batu pertama pada 11 Januari 1994 oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman, hingga akhirnya diresmikan secara langsung oleh Presiden Soeharto pada 19 Desember 1995.
Secara historis, monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dalam pembebasan Irian Barat sekaligus menjadi penghargaan atas kepemimpinan mantan Presiden Soeharto, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Mandala. Kehadiran komando ini sangat krusial dalam merebut kembali Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi setelah sempat dikuasai Belanda selama hampir 20 tahun pasca-kemerdekaan. Sebelum menjadi monumen, lahan ini memiliki catatan panjang; berawal dari sekolah guru (kweekschool) pada zaman kolonial Belanda tahun 1876, lalu berubah menjadi Markas Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada tahun 1946. Di era Orde Lama tepatnya 2 Januari 1962, Presiden Soekarno menjadikannya Markas Komando Mandala, yang kemudian beralih fungsi di era Orde Baru sebagai Markas Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dan Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Polda Sulselra), sebelum akhirnya bangunan lama tersebut dirobohkan pada tahun 1993.
Ditinjau dari segi arsitektur, Monumen Mandala sarat akan makna filosofis yang mendalam di setiap sudutnya. Struktur utamanya dirancang berbentuk segitiga sama sisi yang melambangkan Tri Komando Rakyat (Trikora), dengan ketinggian menara mencapai 62 meter menuju ruang pandang sebagai manifestasi tahun kembalinya Irian Barat, yaitu tahun 1962. Bagian bawah menara dihiasi relief lidah api yang melambangkan semangat Trikora, sementara bagian atasnya menyimbolkan semangat yang tak pernah padam, dikelilingi oleh 27 buah relief bambu runcing sebagai representasi alat perjuangan fisik pra-kemerdekaan. Keberadaan kolam di sekeliling menara menyimbolkan kejernihan berpikir yang mutlak dalam perjuangan, sedangkan puncak monumen dilengkapi harde penangkal petir sebagai simbol cita-cita luhur bangsa. Di bagian dalam bangunan setinggi empat lantai ini, pengunjung dapat menyaksikan deretan diorama yang menggambarkan visualisasi runut sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Photo by @exploremakassar on Instagram
Informasi
- Kategori
- Wisata Sejarah
