Senin-Jumat: 08:00 - 16:00 WITA(0411) 112 · info@makassarkota.go.id

Jelajahi Kota Makassar

Destinasi Wisata & Kuliner

Temukan keindahan pantai, sejarah, budaya, dan kuliner khas Makassar.

Wisata Sejarah

Fort Rotterdam

Benteng Rotterdam, atau yang lebih dikenal sebagai Fort Rotterdam, merupakan salah satu situs bersejarah paling ikonik yang terletak di jantung Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berdiri megah di dekat pesisir Pantai Losari, benteng ini awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-IX sebagai benteng pertahanan lokal yang bernama Benteng Panyua (Penyu). Setelah jatuh ke tangan VOC Belanda lewat Perjanjian Bongaya pada abad ke-17, kompleks ini dibangun kembali dengan arsitektur gaya kolonial Eropa dan dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan sekaligus markas militer Belanda di wilayah timur Nusantara.

Saat ini, Fort Rotterdam telah bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya utama yang menawarkan perpaduan arsitektur kuno yang sangat terawat. Di dalam area benteng yang dikelilingi dinding batu padas setinggi tujuh meter ini, pengunjung dapat menjelajahi belasan bangunan bergaya Gotik Belanda yang masih kokoh berdiri. Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Museum La Galigo, yang menyimpan ribuan koleksi artefak prasejarah, pakaian adat, senjata tradisional, hingga naskah kuno yang merekam jejak kejayaan peradaban suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar.

Selain nilai historisnya yang kental, Fort Rotterdam juga berfungsi sebagai ruang publik kreatif yang hidup dan ramah bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Area halaman dalamnya yang tertata rapi dengan hamparan rumput hijau yang luas sering kali menjadi tempat bersantai, berfoto, hingga penyelenggaraan berbagai festival seni dan budaya berskala internasional. Lokasinya yang sangat strategis dan mudah diakses menjadikan benteng berbentuk penyu ini sebagai tempat terbaik untuk menyelami masa lalu Makassar sekaligus menikmati atmosfer kota yang hangat.

Photo by Andi Hasbi Jaya on Unsplash

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo merupakan salah satu situs cagar budaya bernilai sejarah tinggi yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kawasan sakral ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para penguasa Kesultanan Tallo yang pernah berjaya sebagai kerajaan maritim mendampingi Kerajaan Gowa pada abad ke-16 hingga ke-17. Kompleks makam ini menjadi bukti bisu masa keemasan peradaban Islam di Sulawesi Selatan, di mana Raja Tallo ke-14, Sultan Abdullah Awwalul Islam, dinobatkan sebagai raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk agama Islam.

Secara arsitektural, kompleks makam ini menampilkan keunikan konstruksi abad pertengahan yang memadukan unsur lokal Bugis-Makassar dengan pengaruh kebudayaan Islam. Makam-makam di situs ini didominasi oleh tiga tipe bentuk utama, yaitu tipe kuburan batu (kamre), tipe kubah, dan tipe candi yang terbuat dari susunan batu bata kuno tanpa semen, melainkan menggunakan perekat alami tradisional. Karakteristik khusus tampak pada papan nisan bergaya khas yang dihiasi dengan pahatan kaligrafi Arab, relief tumbuh-tumbuhan, serta ragam hias geometris yang mencerminkan status sosial dan spiritualitas tinggi para raja yang dimakamkan di sana.

Saat ini, Kompleks Makam Raja Tallo telah ditata rapi sebagai destinasi wisata sejarah dan religi yang edukatif bagi masyarakat luas maupun wisatawan mancanegara. Lingkungan di sekitar makam dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan suasana teduh, tenang, dan khidmat bagi para peziarah yang datang. Sebagai bagian penting dari warisan budaya nasional, situs ini terus dirawat dan dilestarikan oleh pemerintah bersama masyarakat setempat guna menjaga kelestarian memori kolektif bangsa tentang ketangguhan dan kejayaan para leluhur Makassar.

Photo by Explore Makassar on Website

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Monumen Mandala

Monumen Mandala merupakan simbol perjuangan historis yang berdiri megah di atas lahan seluas kurang lebih 11 hektar di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar. Menara setinggi 75 meter ini didirikan sebagai bukti nyata perlawanan rakyat Sulawesi Selatan dalam menentang Nederlandsche Indesche Civil Administratie (NICA) yang membonceng tentara sekutu, sekaligus menjadi tonggak sejarah perjuangan rakyat Indonesia bagian timur dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembangunan proyek monumental ini diprakarsai oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, H.A. Zaenal Basri Palaguna. Prosesnya dimulai dengan peletakan batu pertama pada 11 Januari 1994 oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman, hingga akhirnya diresmikan secara langsung oleh Presiden Soeharto pada 19 Desember 1995.

Secara historis, monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dalam pembebasan Irian Barat sekaligus menjadi penghargaan atas kepemimpinan mantan Presiden Soeharto, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Mandala. Kehadiran komando ini sangat krusial dalam merebut kembali Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi setelah sempat dikuasai Belanda selama hampir 20 tahun pasca-kemerdekaan. Sebelum menjadi monumen, lahan ini memiliki catatan panjang; berawal dari sekolah guru (kweekschool) pada zaman kolonial Belanda tahun 1876, lalu berubah menjadi Markas Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada tahun 1946. Di era Orde Lama tepatnya 2 Januari 1962, Presiden Soekarno menjadikannya Markas Komando Mandala, yang kemudian beralih fungsi di era Orde Baru sebagai Markas Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dan Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Polda Sulselra), sebelum akhirnya bangunan lama tersebut dirobohkan pada tahun 1993.

Ditinjau dari segi arsitektur, Monumen Mandala sarat akan makna filosofis yang mendalam di setiap sudutnya. Struktur utamanya dirancang berbentuk segitiga sama sisi yang melambangkan Tri Komando Rakyat (Trikora), dengan ketinggian menara mencapai 62 meter menuju ruang pandang sebagai manifestasi tahun kembalinya Irian Barat, yaitu tahun 1962. Bagian bawah menara dihiasi relief lidah api yang melambangkan semangat Trikora, sementara bagian atasnya menyimbolkan semangat yang tak pernah padam, dikelilingi oleh 27 buah relief bambu runcing sebagai representasi alat perjuangan fisik pra-kemerdekaan. Keberadaan kolam di sekeliling menara menyimbolkan kejernihan berpikir yang mutlak dalam perjuangan, sedangkan puncak monumen dilengkapi harde penangkal petir sebagai simbol cita-cita luhur bangsa. Di bagian dalam bangunan setinggi empat lantai ini, pengunjung dapat menyaksikan deretan diorama yang menggambarkan visualisasi runut sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Photo by @exploremakassar on Instagram

Selengkapnya
Wisata Sejarah

Museum kota makassar

Museum Kota Makassar merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya paling ikonik yang terletak di jantung Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Menempati gedung bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1916, yang dulunya berfungsi sebagai Gedung Balai Kota (Gouvernements Gebouw), museum ini menawarkan arsitektur megah bergaya Eropa klasik yang masih terawat dengan sangat baik. Kehadirannya tidak hanya menjadi landmark visual kota, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan waktu yang menghubungkan masyarakat modern dengan memori kolektif masa lalu di tanah Daeng.

Memasuki bagian dalam museum, pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai koleksi berharga yang merangkum perjalanan panjang sejarah Makassar dari masa ke masa. Koleksi yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari peta bumi kuno yang menggambarkan jalur pelayaran komersial, dokumentasi foto para Wali Kota Makassar dari periode awal hingga sekarang, mata uang kuno, hingga berbagai artefak peninggalan kerajaan lokal seperti Kerajaan Gowa dan Tallo. Setiap sudut ruangan ditata sedemikian rupa untuk menceritakan bagaimana kota pelabuhan yang dinamis ini berkembang menjadi salah satu pusat kosmopolitan terbesar di Indonesia Timur.

Bagi para wisatawan, pelajar, maupun peneliti, berkunjung ke Museum Kota Makassar memberikan pengalaman edukasi yang mendalam dan reflektif. Selain menikmati estetika bangunan yang sangat fotogenik untuk diabadikan, tempat ini menjadi sarana terbaik untuk memahami keragaman budaya lokal, ketangguhan para pelaut ulung Bugis-Makassar, serta sejarah perjuangan kemerdekaan di wilayah ini. Museum ini menjadi destinasi wajib yang menyempurnakan perjalanan Anda di Makassar, memberikan wawasan berharga bahwa kota ini dibangun di atas fondasi sejarah yang begitu besar dan kaya.

Photo by Dinas Kebudayaan Kota Makassar on Instagram

Selengkapnya